Persembahan Untukmu Radiografer Indonesia

Semua berawal dari hal yang kecil, sepele, remeh dan kelihatan mudah namun mudah-mudahan bisa berevolusi bahkan bermetamorfosa menjadi lebih besar, penting, bernilai dan mampu memberi pengaruh (positif tentunya). Go to read, and enjoy.............
Tampilkan postingan dengan label ct scan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ct scan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Maret 2012

Modalitas Imaging CT Scan dalam Pemeriksaan Radiologi

Modalitasi Imaging di bidang diagnostik khususnya radiologi salah satunya adalah CT Scanner. Sampai detik ini perkembangan yang pesat dan terus tumbuhnya inovasi dan perkembangan teknologi baik dari sisi perangkat keras (hardware) maupun dari sisi perangkat lunaknya (software) terus berjalan seakan tak ada akhirnya. CT Scan merupakan salah satu modalitas Imaging penting dalam pemeriksaan radiologi yang penggunaan dan dalam aplikasi harus dikuasai oleh radiographer/technologist dengan baik.

Dalam melakukan pemeriksaan menggunakan CT Scan biasanya didasarkan pada keterangan klinis dari dokter pengirim sesuai dengan indikasi klinis pasien. Dokter pengirim diharapkan dapat memberikan keterangan klinis yang adekuat dan akurat kepada radiologist, informasi dan hasil pemeriksaan lain yang mendukung seperti foto – foto x ray sebelumnya, hasil laboratorium dan data lain yang mendukung, sehingga radiologist pun dapat melakukan pemeriksaan yang sesuai. Pertimbangan lain misalnya untuk melakukan dengan pemeriksaan lain seperti USG atau MRI dapat pula dilakukan jika kondisi pasien tidak memungkinkan. Pertimbangan ini perlu dilakukan, terutama pada kasus-kasus dimana dibutuhkan ketelitian lebih dan untuk mengurangi jumlah dosis radiasi pada pasien yang akan menjalani pemeriksaan dengan menggunakan CT Scan.

Dari semua keterangan tersebut di atas, faktor penguasaan aplikasi CT Scan dalam melakukan pemeriksaan radiologi baik rutin maupun yang khusus sangatlah penting. Radiografer atau technologist menjadi ujung tombak dari penguasaan alat CT Scan tersebut.

Materi ini akan membawa Anda untuk dapat mengetahui dan memahami aspek-aspek yang ada dalam penguasaan teknik dan aplikasi CT scan dari basic (dasar) sampai ke Advanced (lanjut).

Aspek Teknik

- Teknik Pemeriksaan / Scanning

Pada pemeriksaaan CT Scan sekarang ini hubungan antara pemeriksaan dengan parameter scan lebih kompleks dibanding dengan pemeriksaan CT Scan masa sebelumnya. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan MSCT yang optimal sangat ditentukan oleh operator dalam membuat protokol yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan yang dilakukan. Tiap pemeriksaan dan alat (MSCT dengan perbedaan slicenya) memiliki parameter scan yang specifik dan berbeda baik dari sisi kecepatan maupun kemampuan membuat ketebalan irisan. Terlebih pada era sekarang ini dimana perkembangan CT Scan sudah sedemikian maju dengan era multi slice (saat ini sudah ada MSCT 320 slice).

Berikut ini adalah beberapa Teknik Scanning pada alat CT Scan secara umum :

1. Topogram/Scout View/Scanogram/PilotScan
Teknik scanning dimanan obyek bergerak masuk ke gantry dan pada saat bersamaan terjadi penyinaran X ray dengan posisi Tabung X Ray diam pada posisi 0 derajat atau 90 derajat. Sehingga diperoleh gambar proyeksi AP (Pada pemeriksaan Thorax, Abdomen atau pelvis) atau Lateral (Pem. Kepala, Thoracal, Lumbal).
Gambar ini akan dijadikan sebagai Lokalisasi daerah yang akan diperiksa/scan.

2. Axial Scaning/Transversal
Scanning yang umumnya dilakukan pada CT Scan dimana gambar yang diperoleh adalah potongan melintang / transversal dari obyek yang diperiksa.

3. Rapid Scanning / Fast Scanning
Semua CT Scan terbaru saat ini memiliki fasilitas ini, dimana proses scanning tidak lagi menunggu setelah proses rekonstruksi gambar selesai. Operator cukup menekan satu kali tombol exposure dan scanning akan berlangsung secara otomatis sampai selesai.

4. Dynamic Scanning
Scanning secara cepat pada suatu obyek tanpa atau dengan pergerakan Meja Pemeriksaan. Biasa dipergunakan untuk menghitung waktu pencapaian Peak/puncak penyangatan media kontras pad obyek tertentu.
Misalnya : Perfusion CT.

5. Helical Scanning / Volume Scanning
Hampir semua alat CT Scan era sekarang ini memiliki teknik ini. Scanning dilakukan dimana pada saat bersamaan meja pemeriksaan bergerak masuk ke gantry. Teknik ini membutuhkan kemampuan tabung X ray yang memiliki kapasitas menyimpan panas yang besar atau kemampuan membuang panas yang cepat, Jumlah gambar / irisan yang diperoleh berjumlah banyak sehingga membutuhkan kapasitas penyimpanan data yang besar dan juga waktu rekonstruksi serta proses pengolahan gambar yang lama.

Hal penting dari adanya teknik ini adalah Daerah scan yang lebih besar dengan waktu scan yang sangat singkat/cepat dan Mendapatkan data volume dari sebuah obyek sehingga memungkinkan untuk mendapatkan gambar 3D yang baik dan halus. Maka berkembanglah beberapa aplikasi pemeriksaan CT sperti Cardiac CTA, CT Angiografi, dan pemeriksaan CT Hepar multi fase.

- Faktor Teknik CT scan

Beberapa faktor teknik dalam pemeriksaan CT scan yang harus diperhatikan dalam membuat pemeriksaan CT scan yang optimal dapat dilihat dari berbagai aspek mulai dari aspek pasien (Indikasi pemeriksaan), parameter scan dan aspek pemberian kontras media.

Faktor teknik alat CT scan secara umum sangat dipengaruhi oleh spesifikasi alat tersebut yang mungkin dari satu vendor ke vendor lain berbeda kemampuan dan sistemnya, meskipun pada intinya adalah untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal pada masing-masing pemeriksaan, seperti yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini, beberapa fitur yang akan mempengaruhi faktor teknik alat CT scan yang juga akan mempengaruhi hasil pemeriksaan CT scan :
Faktor penting yang lain adalah  parameter dan strategi pemberian media kontras media yang tepat. Jika dua parameter tersebut dapat dipilih dengan tepat tentu akan dapat menghasilkan pemeriksaan MSCT yang optimal dan memiliki nilai diagnostik yang tinggi.

Bersambung ..... (Parameter dan Protokol scan dalam aplikasinya)

Rabu, 21 Oktober 2009

Panduan Pemeriksaan CT Angiografi


Pada era sekarang pemeriksaan CT dengan menggunakan Multi Slice CT memungkinkan dilakukannya pemeriksaan Angiografi (pembuluh darah arteri), yang dikenal dengan istilah pemeriksaan CTA (CT angiografi). Hal ini dapat terjadi karena MSCT memiliki kemampuan dan kecepatan yang tinggi dan resolusi gambar yang baik sehingga mampu mendapatkan hasil pemeriksaan CT yang sangat baik, detail dan informative, dulunya mungkin hanya bisa dilakukan dengan Angiografi konvensional (kateterisasi). Pemeriksaan ini berkembang seiring dengan peningkatan kemampuan alat CT itu sendiri (baik dari sisi kecepatan maupun detail gambar) dan ditambah dengan teknik CTA ini yang dirasa lebih non invasive (relative lebih nyaman buat pasien).

Adapun teknik pemeriksaan CT Angiografi yang dapat dilakukan dengan MSCT adalah : Cerebral, Carotis, Aorta, beserta cabang aterinya (art. Coeliac, Hepatik, Lienalis, Renalis, Mescentrika Sup. dan Inf.) Iliaca sampai ke peripheral (Femoralis dan Tibialis), Cardiac (MSCT 64 slice keatas) dan pembuluh darah arteri lainnya.

Pada pembahasan ini , akan dijelaskan Mengenai teknik pemeriksaan CT Angiografi satu per satu yang dimulai dari persiapan, parameter dan teknik scanning serta post processing untuk mendapatkan hasil akhir (gambar) yang diperlukan , secara ringkas dijelaskan sebagai berikut :

CT Angio Cerebral

Alat dan Bahan :
(Merupakan standar yang sering dipakai di lapangan, merk dan type diserahkan pada masing-masing user):
1. Abbocath / Venflon/ sureflow No. 18 atau 20 : 1
2. Threeway stopcock : 1
3. Spuit 20 cc : 1
4. Spuit 1 cc : 1
5. Syringe Connector : 1
6. Syringe Injector : 1
7. Bahan contrast (Iopamiro / optiray / ultravist / omnipaque) = 60 - 70 cc
8. Water for injection / NaCl : 50 cc

Persiapan  :
- Puasa minimal 3 s/d 4 jam sebelum pemeriksaan
- Periksa ureum creatinin
- Pasang sureflow + Threeway sedapat mungkin pada vena antecubital kanan
- Cek patensi dengan menyuntikan 15-20 cc dan flowrate 4 cc/s NaCL melalui threeway

Posisi dan prosedur:
- Supine, head first
- Gunakan protocol CTA Cerebral telah dibuat dengan Tehnik Bolus Tracking
- Buat topogram area kepala
- Atur FoV untuk mencakup seluruh wilayah arteri cerebral (lihat gambar.1)
- Letakkan premonitoring pada kretinggian cervical 2-3
- Letakkan trigger (ROI) pada arteri carotis interna dan set IV Bolus pada 100 HU
- Atur volume kontras 60 – 70 cc Atau dengan formula ( Vol CM= scan time x flow rate)
- Flow rate diset 3 - 4 cc / detik
- Start injeksi berbarengan dengan start scanning
- Perhatikan gambar, jika ternyata trigger (ROI) meleset dan terjadi enhancement di tempat lain, tekan start secara manual

Post Processing:
- Buat recon tertipis yang dimungkinkan (0,6 mm dan recon increment 0,4) dengan window CT angio dan Kernels Smooth (H10s – H20s)
- Proses dalam 3D dalam bentuk MIP Thin
- Atur ketebalan MIP (klik kanan) antara 20 – 30
- Cari dan perlihatkan : ACA, ACM, ACP, Circle of Willis, Basillaris dan Arteri Vertebralis-basilaris
- Type gambar yang dicetak MIP Thin, dan VRT.
- Cetak gambar di film sejumlah + 9 s/d 12 gambar dan pada kertas 4 s/d 6 gambar.

Protocol Scan : 
Sensation 64 HeadAngio 2nd reconstr.
kV 100
Effective mAs/Quality ref. mAs 160
Rotation time 0.500 sec.
Acquisition 64 x 0.6 mm
Slice collimation 0.6 mm
Slice width 4.0 mm 0.6 mm
Feed/Rotation 23.0 mm
Pitch Factor 1.20
Increment 4.00 mm 0.4 mm
Kernel H20f H10f
CTDIVol 15.2 mGy
Effective dose Male: 0.62mSv
Female: 0.67 mSv

Bersambung ............................... CT Angio - Carotis.

Rabu, 19 Agustus 2009

Kontras Oral pada Pemeriksaan CT Scan Abdomen


Pemeriksaan CT Scan Abdomen membutuhkan keadaan usus besar yang bersih agar gambaran usus dapat tervisualisasi dengan baik oleh karena itu pasien biasanya dipuasakan terlebih dahulu (Persiapan pasien pemeriksaan CT Abdomen terlampir).
Pada pemeriksaan Abdomen dibutuhkan adanya pembeda pada struktur gambaran organ pencernaan dari gambaran struktur lainnya seperti Lymph nodes, massa atau abses pada abdomen. Beberapa tipe kontras untuk organ cerna al:

- Barium suspensi (1% - 2%) missal EZ-CAT
- Campuran Air dan Kontras Yodium (2% - 4%) (water soluble agent) mis.
Gastrografin, atau urografin (Untuk mengurangi rasa tidak enak, dapat dicampur dengan sirup,madu atau gula.
- Air minum saja sebagai kontras negatif

Waktu minum kontras tersebut sangat penting untuk memastikan kontras telah tersebar pada sistem saluran cerna. Oleh karena biasanya prosedur minum kontras diatur sbb :

Pemeriksaan CT Abdomen Atas :
Minimum 600 ml s/d 750 ml kontras dibagi 3 bagian/gelas (@ 200-250 ml)
- Gelas Pertama : diminum 30 menit sebelum pemeriksaan
- Gelas kedua : diminum 15 menit sebelum pemeriksaan
- Gelas ketiga : diminum 5 menit sebelum pemeriksaan

Pemeriksaan CT Abdomen-Pelvis
Minimum 800 ml s/d 1000 ml kontras dibagi 4 bagian/gelas (@ 200-250 ml)
- Gelas Pertama : diminum 1 jam sebelum pemeriksaan
- Gelas kedua s/d gelas ke 4 : diminum tiap 15 menit sesudahnya.
- Setelah gelas ke empat (terakhir) 5 menit kemudian pemeriksaan CT dapat dilakukan

Secara umum, untuk pemeriksaan CT Abdomen untuk melihat liver, Gallblader/kantung empedu (khususnya batu empedu), pancreas, usus halus, lesi pada ginjal dan untuk melihat sistem vascular (Arteriografi atau CT Angio) biasanya cukup digunakan Air saja sebagai kontras negatif.

Air lebih efektif untuk dapat menampilkan gambaran dari tepi dinding usus halus atau lambung lebih baik dan jelas dibandingkan menggunakan kontras positif (barium atau larutan kontras yodium) tambahan jika diperlukan evaluasi pada sistem vascular (CTAngio) akan lebih mudah untuk menampilkan gambaran vascular tersebut karena tidak ada superposisi antara barium dan kontras di arterinya.

Untuk kasus pasien dengan obstruksi colon, hanya air atau larutan kontras yang boleh diberikan, barium menjadi kontra indikasi.

Pada kasus pasien dengan pheochromocytoma, pemberian kontras intra vena dapat menyebabkan peningkatan hypertensi pasien.
Hal lain yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil optimal pada pemeriksaan CT scan Abdomen (type MPR dan VRT) selain kontras media adalah pengaturan parameter scan dan rekontruksi gambar seperti lebar kolimasi yang dipakai, recon increment dan ketebalan irisan yang dibuat.

Pemeriksaan CT Scan Thorax


CT Thorax Rutin

Indikasi Pemeriksaan :
Evaluasi variasi sistemik atau kelainan thorax; deteksi / follow up tumor/cancer (Limphoma, Carcinoma bronchus)

Hasil Yang diharapkan:
Mendapatkan gambaran yang jelas antara jaringan dan pembuluh darah di daerah thorax (Enhancement kontras) dan dapat membedakan daerah mediastinum dan struktur hillar dengan baik.
Dibuat dari area apex paru sampai dengan dibawah sinus costoprenicus atau beberapa klinisi menginginkan sampai daerah supra renalis untuk pemeriksaan post kontrasnya.

Teknik Pemeriksaan:
Pemberian kontras sebanyak 60-80 ml , 300 mg/ml di suntikan dengan flow rendah 1,5 -2,5 ml/dtk dan sedapat mungkin berdurasi lama (> 30 detik) untuk memastikan didapatnya fase kontras saat scan berlangsung pada daerah pembuluh darah thorax. Pemberian flushing (NaCl) disarankan untuk mengurangi artifact dari perivena (SVC), selain itu disarankan pula untuk melakukan scanning dengan arah caudo-cranial.

Untuk menentukan delay scan dibuat dengan rumus :

Delay = t INJ+ 6 s - t SCAN

t INJ : waktu/durasi penyuntikan
t SCAN : Waktu/durasi scan
6 s didapat dari delay untuk pemberiaan aba-aba

Pulmonary Arteries

Indikasi Pemeriksaan :
Acute pulmonary embolism, chronic thrombo-embolic pulmonary hypertension (CTEPH), pulmonary arteriovenous malformations (AVM), pulmonary artery aneurysms, and arteriovenous fistulas.

Hasil yang diharapkan :
Mendapatkan gambaran dengan enhancement kontras pada daerah Arteri Pulmonum yang diharapkan dapat mendeteksi adanya kelainan vascular , menunjukan adanya filling defect atau mural thrombus.

Teknik Pemeriksaan :
Sangat dibutuhkan kontras dengan konsentrasi tinggi (350-370) untuk dapat memberikan pembeda yang jelas antara vascular dengan jaringan lainnya terutama kelainan yang ada di daerah arteri dan kelainan intraluminalis. .
Pemberian kontras dengan flow rate 3-4 ml/detik (dengan injektor) dibutuhkan jika kontras yang digunakan dengan konsentrasi standar (300-350). Tapi jika menggunakan kontras dengan konsentrasi diatas 350 flow rate dapat diturunkan menjadi 2,5 - 3 ml/detik
Pemberian Saline (NaCl) flushing disarankan (30-50 ml dengan flow rate yang sama).

Delay scan diatur dengan rumus sbb:

Delay = t INJ+3 s – t SCAN

t INJ : waktu/durasi penyuntikan
t SCAN : Waktu/durasi scan
3 s merupakan batas minimal delay alat CT

Untuk pasien dengan gangguan pada sirkulasi jantung (CardioCirculatory distress/CTEPH), disarankan dengan flowrate rendah, sebab adanya gangguan fungsi pada cardiac outputnya akan mempengaruhi gambaran kontrasnya

Prosedur umum :

Topogram: AP, dengan panjang area topo : 512 mm.

Posisi Pasien : Pasien di posisikan supine, lengan tangan diposisikan nyaman di atas samping kepala (bersandar pada bantal)., kaki nyaman dengan pengganjal di lutut.

Pemeriksaan dibarengi dengan aba-aba : Tarik Nafas – Tahan – Nafas biasa

Post processing dibuat 2 window yaitu :
- Mediastinum (Jaringan) dengan kernel/filter : B30smooth
- Lung (Bronchus) dengan kernel/filter : B70 sharp

Ketebalan irisan : 8 – 10 mm untuk dicetak di film (+ 2-4 lembar)
Jika menginginkan gambaran coronal dan sagital yang baik dibutuhkan data rekonstruksi dengan irisan yang tipis 1 - 1,5 mm selanjutnya diproses di aplikasi 3D.

Protocol Pemeriksaan :

CT Scan : Somatom Sensation 64 Slice
kV : 120
Effective mAs/Quality ref. mAs : 100
Rotation Time : 0.5 sec.
Acquisition : 64 x 0.6 mm
Slice collimation : 0.6 mm
Slice width : 8.0 mm
Feed/Rotation : 26.9 mm
Pitch Factor : 1.40
Increment : 8.0 mm
Kernel : B31f dan B70f
CTDIVol : 7.7 mGy
Effective dose : Male: 3.53 mSv
Female: 4.46 mSv

Contrast medium IV injection

Start delay : 25 – 30 sec.
Flow rate : 2.5 ml/sec.
Total amount : 80 ml




Selasa, 07 Juli 2009

Computed Tomography History and Technology


Pendahuluan

Computed Tomography (CT Scan) telah berkembang menjadi sebuah metode pencitraan medis yang sangat diperlukan dalam pemeriksaan radiodiagnostik sehari-hari. Perkembangan CT Scan dimulai pada awal tahun 1970-an dimana pada 1972, Sir Godfrey Newbold Hounsfield dan Ambrose, di London, Inggris berhasil menghasilkan sebuah gambaran klinis pertama CT Scan Kepala. Sejak itulah peralatan Computed Tomography yang merupakan perpaduan peralatan pencitraan sinar X dengan komputer pengolah data sehingga dapat menampilkan potongan melintang (tranversal/axial) bagian tubuh manusia berkembang dengan sangat cepat dan menjadi teknologi imaging yang sangat mengagumkan.

Inovasi dalam perkembangan teknologi CT Scan berkembang bersamaan dengan perkembangan teknologi komputer. Tehnik pemeriksaan CT Scan menjadi sebuah pemeriksaan radiodiagnostik yang bersifat non invasive yang mampu menampilkan gambar bagian dalam tubuh manusia yang tidak terpengaruh oleh super posisi dari struktur anatomi yang berbeda. Hal ini dimungkinkan karena pada teknik pencitraan ini di dapat dari seluruh informasi obyek yang diproyeksikan pada bidang dua dimensi dengan menggunakan teknik algoritma rekontruksi gambar dan diolah dengan bantuan computer. Sehingga dapat diperoleh sebuah gambaran 2 dimensi tanpa kehilangan informasi 3 dimensinya.

Tak pelak, tehnik pemeriksaan CT scan pun berkembang menjadi sebuah pemeriksaan radiodiagnostik yang menunjang semua bidang klinik, Neurology (Sistem Syaraf), Oncology, Cardiology dan Vascular (pembuluh darah) serta kasus Acute Care (Emergency).
Perkembangan ini menjadikan tehnik pemeriksaan CT scan menjadi sebuah kebutuhan pokok untuk dapat dikuasai oleh tenaga radiographer dan dokter ahli radiology.

Perkembangan Teknologi CT Scan

Arah perkembangan teknologi CT Scan pada saat ini lebih diutamakan pada peningkatan kecepatan pencitraan dengan adanya multi detector, peningkatan resolusi gambar, dan pengurangan dosis radiasi yang diterima oleh pasien. Beberapa Vendor berlomba untuk dapat membuat sebuah pesawat CT Scan yang memenuhi ketiga tujuan diatas tadi. Sedangkan pada bidang aplikasinya lebih dipengaruhi oleh teknologi pengolahan citra digital yaitu teknologi software (Komputer) baik dari gambaran 2 dimensi maupun gambaran 3 dimensi. Dengan teknologi ini pemeriksaan diagnostic yang tadinya bersifat invasif menjadi pemeriksaan non invasive yang dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya.

Sejarah perkembangan teknologi CT Scan dapat dirangkum sebagai berikut :

1917 J.H. Radon: Transformasi Radon, gambar dari obyek yang tidak diketahui dapat digambarkan dari proyeksinya.
1963 A.M. Cormack: mengembangkan teknik untuk menentukan distribusi penyerapan tubuh manusia.
1972 G.N. Hounsfield dan J. Ambrose: menghasilkan gambar CT pertama kali untuk keperluan klinis.
1974 60 unit CT terpasang untuk pemeriksaan kepala
1975 First whole body scanner in clinical use
1979 Hounsfield dan Cormack dianugerahi hadiah Nobel
1989 W.A. Kalender dan P. Vock melakukan pemeriksaan klinis pertama dengan menggunakan Spiral CT
1998 Multislice CT (4 slices)
2000 PET/CT systems.
2001 CT Scan 16 slices
2004 64 slices, > 40000 instalasi CT untuk aplikasi klinik.
2005 Dual Source CT, untuk pemeriksaan Cardiac dan Dual Energy
2006 128 Slice CT dan 320 Slice


Adapun sering dikenal "Generasi" yang digunakan sebagai pembeda rancangan konfigurasi Tabung dan Detektor pada perangakat CT Scan. Yang sampai saat ini masih digolongkan menjadi 4 generasi dan mengalami perkembangan dan perubahan sebagai berikut :

Generasi I Translation/rotation Pencil Beam (1970)
Generasi II Translation/rotation Partial Fan Beam (1972)
Generasi III Continous Rotation Fan Beam (1976) Rotasi Detektor (Detector Ring)
Generasi IV Continous Rotation Fan Beam Stationary Detektor (1978)
Generasi V Electron Beam Technique ; EBCT Electron Beam Computed Tomography scanner untuk pemeriksaan cardiac
Generasi VI Spiral CT / Helical CT (1989-1990 ; pengembangan generasi 3 dan 4. tetapi masih single slice.
Generasi VII Multi Detector CT (MDCT/MSCT) 1998 ; dikenal dengan era Multi Slice Computed Tomography
Generasi VIII Dual Source CT (DSCT) 2005: 2 pasang tabung dan detektor dalam satu gantry.

Setting dan Komponen pesawat CT Scan

Sebuah sistem CT Scan terdiri dari beberapa komponen yaitu :
v Unit Pemindai / Gantry yang didalamnya terdapat Tabung sinar X ray dan rangkaian detektor
v Meja pemeriksaan pasien
v Unit komputer pengolah data
v Konsul Pengendali

Cara kerja pesawat CT Scan secara sederhana dapat di jelaskan dengan gambar sebagai berikut :


Dan secara garis besar sebuah sistem CT Scan dapat dijabarkan sebagai berikut :

Sistem Pemindai (Scan System) ; terdiri dari unit distribusi daya listrik, generator dan tabung sinar X Ray, detektor dan sistem pengukuran data. Selain itu terdapat pula sistem pengendali putaran gantry, sistem pengendali bagian gantry yang tidak bergerak, sistem meja/table pasien dan sistem pendingin à semuanya terdapat pada gantry.

Sistem Pengolahan Data (Imaging System); terdiri dari 3 unit komputer yaitu System Rekonstruksi Gambar/IRS (Imaging Reconstruction System), Sistem komputer pengendali (ICS ; Imaging Consul System) dan komputer pengerjaan post processing (Work station system)

Sistem Kontrol/Kendali (Control System), terdiri dari beberapa sistem pengendali mikro yang mengendalikan masing-masing komponen CT scan dan seluruh sistem ini bekerja di bawah koordinasi sistem komputer pengendali (ICS) sebagai pengendali utama.

Arah perkembangan teknologi CT Scan pada saat ini lebih diutamakan pada peningkatan kecepatan pencitraan dengan adanya multi detector, peningkatan resolusi gambar, dan pengurangan dosis radiasi yang diterima oleh pasien.

Peningkatan resolusi gambar banyak sekali mengalami perkembangan, sampai saat ini resolusi gambar telah mencapai 0,24 mm (Definition AS+, 128 slices) sehingga detail image dan akurasi pemeriksaan dapat lebih akurat dan mendapatkan real body imaging.
Hal ini ditunjukan dengan adanya pengembangan teknologi tabung X ray dengan Z sampling (Z-Sharp), yaitu terdapatnya 2 berkas sinar x ray akibat adanya deflaksi magnetik dan dibuat dengan konstruksi ramping, ukuran kecil sehingga mampu berputar dengan sangat cepat (0,33 detik/rotasi), selain memiliki kemampuan membuang panas sebesar-besarnya untuk menghindari overheating. Teknologi tabung X ray ini dinamakan STRATON Tube X ray.


Berbagai upaya telah dilakukan untuk pengurangan dosis radiasi terhadap pasien, adanya software pengaturan auto mAs (CARE Dose), adanya penambahan shield/colimator pada sistem tabung X ray, dan detector yang dibuat dari bahan yang memiliki efektifitas penyerapan sinar X ray, waktu after glow yang pendek dan ukuran yang kecil sehingga dapat mendapatkan informasi pixel dengan resolusi tinggi. Material detector dari inti keramik yang bermutu tinggi dikenal dengan nama UFC (Ultra Fast Ceramic)



CT Scan dalam aplikasi dan tantangan di masa depan

Peran CT Scan dalam diagnostik dan pencitraan medik sudah menjadi kebutuhan utama dalam menegakkan diagnosa dan membantu upaya terapi pada setiap kelainan medis pada pasien. Dan dalam aplikasinya CT Scan memberikan kontribusi di semua bidang keilmuan kedokteran yaitu dengan ketersediaan software yang memberikan kemudahan dan akurasi pemeriksaan pada bidang :

- Spesialis Syaraf (Neuro Engine)
- Spesialis Jantung dan Pembuluh darah (Cardiac Engine)
- Spesialis Kanker dan Onkologi (Oncology Engine) dan
- Spesialis Kegawatdaruratan (Acut Care Engine)

Keberadaan software ini tentunya sangat membantu dunia kedokteran secara keseluruhan dan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.


Adapun beberapa software yang bisa dijelaskan sebagai berikut :

1. Neuro Engine : meliputi pemeriksaan Nuero Perfusion, Neuro DSA, Neuro Perfusion Blood Volume.
2. Cardiac Engine : meliputi pemeriksaan Calcium Scoring, Cardiac CTA, Analisa Vessel dan analisa Fungsional Jantung
3. Oncology Engine : meliputi pemeriksaan Lung CARE, Lymph Nodes dan Liver Lession (deteksi automatis komputer pada lesi dan nodul)
4. Acute Care Engine : Kemampuan alat CT Scan untuk memeriksa pada pasien kasus gawat darurat dengan kemampuan tinggi (tidak adanya over heating dan delay time) dan hasil yang baik (resolusi dan detail tinggi).

Selain itu kemampuan CT Scan juga telah dapat membuat pemeriksaan Colonoscopy menjadi lebih aman, mudah dan akurat, Osteo CT (bone densitometri), dan Dental CT.

Bahkan saat ini telah dikembangkan pemeriksaan CT Scan dengan metode dynamic scan sehingga dapat melihat jalannya distribusi media kontras pada saat fase artery dan saat fase vena secara simultan.
Perkembangan ini mesti diimbangi dengan penguasaan teknologi tersebut oleh pekerja dan klinisi di bidang radiologi. Untuk menghadapi tantangan ini, peran Radiografer dan Radiologist sangat dibutuhkan untuk dapat memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi tersebut. Adanya pendidikan yang terprogram dan terpadu serta adanya kemauan dan minat pada perkembangan teknologi (komputer) yang di dapat dari berbagai media menjadi kebutuhan pokok.
Penutup

Pesawat CT Scan saat ini menjadi alat bantu pencitraan medik yang berdaya guna tinggi dan dengan kemampuan yang selalu dan semakin berkembang. Baik dari sisi kualitas gambar, keamanan dosis radiasi dan akurasi pemeriksaan atau pengukuran.
Dalam aplikasinya di dunia medik, CT scan sangat membantu di semua bidang spesialisasi kedokteran. Tantangan kedepan bagi dunia radiologi dan yang menggelutinya seperti Radiografer dan dokter ahli radiologi menjadi lebih berat jika tidak dibarengi dengan kemauan belajar dan berusaha menguasai teknologi tersebut.