Persembahan Untukmu Radiografer Indonesia

Semua berawal dari hal yang kecil, sepele, remeh dan kelihatan mudah namun mudah-mudahan bisa berevolusi bahkan bermetamorfosa menjadi lebih besar, penting, bernilai dan mampu memberi pengaruh (positif tentunya). Go to read, and enjoy.............

Minggu, 14 Juni 2020

Pemeriksaan CT Angiografi

Panduan Pemeriksaan CT Angiografi - Cerebral CTA

Pada era sekarang pemeriksaan CT dengan menggunakan Multi Slice CT memungkinkan dilakukannya pemeriksaan Angiografi (pembuluh darah arteri), yang dikenal dengan istilah pemeriksaan CTA (CT angiografi). Hal ini dapat terjadi karena MSCT memiliki kemampuan dan kecepatan yang tinggi dan resolusi gambar yang baik sehingga mampu mendapatkan hasil pemeriksaan CT yang sangat baik, detail dan informative, dulunya mungkin hanya bisa dilakukan dengan Angiografi konvensional (kateterisasi). Pemeriksaan ini berkembang seiring dengan peningkatan kemampuan alat CT itu sendiri (baik dari sisi kecepatan maupun detail gambar) dan ditambah dengan teknik CTA ini yang dirasa lebih non invasive (relative lebih nyaman buat pasien).
Adapun teknik pemeriksaan CT Angiografi yang dapat dilakukan dengan MSCT adalah : Cerebral, Carotis, Aorta, beserta cabang aterinya (art. Coeliac, Hepatik, Lienalis, Renalis, Mescentrika Sup. dan Inf.) Iliaca sampai ke peripheral (Femoralis dan Tibialis), Cardiac (MSCT 64 slice keatas) dan pembuluh darah arteri lainnya.
Pada pembahasan ini , akan dijelaskan Mengenai teknik pemeriksaan CT Angiografi satu per satu yang dimulai dari persiapan, parameter dan teknik scanning serta post processing untuk mendapatkan hasil akhir (gambar) yang diperlukan , secara ringkas dijelaskan sebagai berikut :

Cerebral CT Angio 
Cerebral CT Angio adalah pemeriksaan CT Scan dengan menggunakan media kontras untuk memperlihatkan gambaran normal atau pun kelainan pada pembuluh darah arteri kepala - Arteri Cerebralis. Adapun pembuluh darah kepala yang akan diperlihatkan meliputi Arteri Cerebralis Anterior (ACA), Arteri Cerebralis Medialis (MCA), Arteri Cerebralis Posterior (PCA) dan Arteri Basillaris dan Arteri Interna Vertebralis .

Alat dan Bahan :
(Merupakan standar yang sering dipakai di lapangan, merk dan type diserahkan pada masing-masing user):
1. Abbocath / Venflon/ sureflow No. 18 atau 20 : 1
2. Threeway stopcock : 1
3. Spuit 20 cc : 1
4. Spuit 1 cc : 1
5. Syringe Connector : 1
6. Syringe Injector : 1
7. Bahan contrast (Iopamiro / optiray / ultravist / omnipaque) = 60 - 70 cc
8. Water for injection / NaCl : 50 cc

Persiapan  :
- Puasa minimal 3 s/d 4 jam sebelum pemeriksaan
- Periksa ureum creatinin
- Pasang sureflow + Threeway sedapat mungkin pada vena antecubital kanan
- Cek patensi dengan menyuntikan 15-20 cc dan flowrate 4 cc/s NaCL melalui threeway

Posisi dan prosedur:
- Supine, head first
- Gunakan protocol CTA Cerebral telah dibuat dengan Tehnik Bolus Tracking
- Buat topogram area kepala
- Atur FoV untuk mencakup seluruh wilayah arteri cerebral (lihat gambar.1)
- Letakkan premonitoring pada kretinggian cervical 2-3
- Letakkan trigger (ROI) pada arteri carotis interna dan set IV Bolus pada 100 HU
- Atur volume kontras 60 – 70 cc Atau dengan formula ( Vol CM= scan time x flow rate)
- Flow rate diset 3 - 4 cc / detik
- Start injeksi berbarengan dengan start scanning
- Perhatikan gambar, jika ternyata trigger (ROI) meleset dan terjadi enhancement di tempat lain, tekan start secara manual.

Post Processing:
- Buat recon tertipis yang dimungkinkan (0,6 mm dan recon increment 0,4) dengan window CT angio dan Kernels Smooth (H10s – H20s)
- Proses dalam 3D dalam bentuk MIP Thin
- Atur ketebalan MIP (klik kanan) antara 20 – 30
- Cari dan perlihatkan : ACA, ACM, ACP, Circle of Willis, Basillaris dan Arteri Vertebralis-basilaris
- Type gambar yang dicetak MIP Thin, dan VRT.
- Cetak gambar di film sejumlah + 9 s/d 12 gambar dan pada kertas 4 s/d 6 gambar.

Protocol Scan : 
Sensation 64 HeadAngio 2nd reconstr.
kV 100
Effective mAs/Quality ref. mAs 160
Rotation time 0.500 sec.
Acquisition 64 x 0.6 mm
Slice collimation 0.6 mm
Slice width 4.0 mm 0.6 mm
Feed/Rotation 23.0 mm
Pitch Factor 1.20
Increment 4.00 mm 0.4 mm
Kernel H20f H10f
CTDIVol 15.2 mGy
Effective dose Male: 0.62mSv
Female: 0.67 mSv


  

Kamis, 15 Maret 2012

Modalitas Imaging CT Scan dalam Pemeriksaan Radiologi

Modalitasi Imaging di bidang diagnostik khususnya radiologi salah satunya adalah CT Scanner. Sampai detik ini perkembangan yang pesat dan terus tumbuhnya inovasi dan perkembangan teknologi baik dari sisi perangkat keras (hardware) maupun dari sisi perangkat lunaknya (software) terus berjalan seakan tak ada akhirnya. CT Scan merupakan salah satu modalitas Imaging penting dalam pemeriksaan radiologi yang penggunaan dan dalam aplikasi harus dikuasai oleh radiographer/technologist dengan baik.

Dalam melakukan pemeriksaan menggunakan CT Scan biasanya didasarkan pada keterangan klinis dari dokter pengirim sesuai dengan indikasi klinis pasien. Dokter pengirim diharapkan dapat memberikan keterangan klinis yang adekuat dan akurat kepada radiologist, informasi dan hasil pemeriksaan lain yang mendukung seperti foto – foto x ray sebelumnya, hasil laboratorium dan data lain yang mendukung, sehingga radiologist pun dapat melakukan pemeriksaan yang sesuai. Pertimbangan lain misalnya untuk melakukan dengan pemeriksaan lain seperti USG atau MRI dapat pula dilakukan jika kondisi pasien tidak memungkinkan. Pertimbangan ini perlu dilakukan, terutama pada kasus-kasus dimana dibutuhkan ketelitian lebih dan untuk mengurangi jumlah dosis radiasi pada pasien yang akan menjalani pemeriksaan dengan menggunakan CT Scan.

Dari semua keterangan tersebut di atas, faktor penguasaan aplikasi CT Scan dalam melakukan pemeriksaan radiologi baik rutin maupun yang khusus sangatlah penting. Radiografer atau technologist menjadi ujung tombak dari penguasaan alat CT Scan tersebut.

Materi ini akan membawa Anda untuk dapat mengetahui dan memahami aspek-aspek yang ada dalam penguasaan teknik dan aplikasi CT scan dari basic (dasar) sampai ke Advanced (lanjut).

Aspek Teknik

- Teknik Pemeriksaan / Scanning

Pada pemeriksaaan CT Scan sekarang ini hubungan antara pemeriksaan dengan parameter scan lebih kompleks dibanding dengan pemeriksaan CT Scan masa sebelumnya. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan MSCT yang optimal sangat ditentukan oleh operator dalam membuat protokol yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan yang dilakukan. Tiap pemeriksaan dan alat (MSCT dengan perbedaan slicenya) memiliki parameter scan yang specifik dan berbeda baik dari sisi kecepatan maupun kemampuan membuat ketebalan irisan. Terlebih pada era sekarang ini dimana perkembangan CT Scan sudah sedemikian maju dengan era multi slice (saat ini sudah ada MSCT 320 slice).

Berikut ini adalah beberapa Teknik Scanning pada alat CT Scan secara umum :

1. Topogram/Scout View/Scanogram/PilotScan
Teknik scanning dimanan obyek bergerak masuk ke gantry dan pada saat bersamaan terjadi penyinaran X ray dengan posisi Tabung X Ray diam pada posisi 0 derajat atau 90 derajat. Sehingga diperoleh gambar proyeksi AP (Pada pemeriksaan Thorax, Abdomen atau pelvis) atau Lateral (Pem. Kepala, Thoracal, Lumbal).
Gambar ini akan dijadikan sebagai Lokalisasi daerah yang akan diperiksa/scan.

2. Axial Scaning/Transversal
Scanning yang umumnya dilakukan pada CT Scan dimana gambar yang diperoleh adalah potongan melintang / transversal dari obyek yang diperiksa.

3. Rapid Scanning / Fast Scanning
Semua CT Scan terbaru saat ini memiliki fasilitas ini, dimana proses scanning tidak lagi menunggu setelah proses rekonstruksi gambar selesai. Operator cukup menekan satu kali tombol exposure dan scanning akan berlangsung secara otomatis sampai selesai.

4. Dynamic Scanning
Scanning secara cepat pada suatu obyek tanpa atau dengan pergerakan Meja Pemeriksaan. Biasa dipergunakan untuk menghitung waktu pencapaian Peak/puncak penyangatan media kontras pad obyek tertentu.
Misalnya : Perfusion CT.

5. Helical Scanning / Volume Scanning
Hampir semua alat CT Scan era sekarang ini memiliki teknik ini. Scanning dilakukan dimana pada saat bersamaan meja pemeriksaan bergerak masuk ke gantry. Teknik ini membutuhkan kemampuan tabung X ray yang memiliki kapasitas menyimpan panas yang besar atau kemampuan membuang panas yang cepat, Jumlah gambar / irisan yang diperoleh berjumlah banyak sehingga membutuhkan kapasitas penyimpanan data yang besar dan juga waktu rekonstruksi serta proses pengolahan gambar yang lama.

Hal penting dari adanya teknik ini adalah Daerah scan yang lebih besar dengan waktu scan yang sangat singkat/cepat dan Mendapatkan data volume dari sebuah obyek sehingga memungkinkan untuk mendapatkan gambar 3D yang baik dan halus. Maka berkembanglah beberapa aplikasi pemeriksaan CT sperti Cardiac CTA, CT Angiografi, dan pemeriksaan CT Hepar multi fase.

- Faktor Teknik CT scan

Beberapa faktor teknik dalam pemeriksaan CT scan yang harus diperhatikan dalam membuat pemeriksaan CT scan yang optimal dapat dilihat dari berbagai aspek mulai dari aspek pasien (Indikasi pemeriksaan), parameter scan dan aspek pemberian kontras media.

Faktor teknik alat CT scan secara umum sangat dipengaruhi oleh spesifikasi alat tersebut yang mungkin dari satu vendor ke vendor lain berbeda kemampuan dan sistemnya, meskipun pada intinya adalah untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal pada masing-masing pemeriksaan, seperti yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini, beberapa fitur yang akan mempengaruhi faktor teknik alat CT scan yang juga akan mempengaruhi hasil pemeriksaan CT scan :
Faktor penting yang lain adalah  parameter dan strategi pemberian media kontras media yang tepat. Jika dua parameter tersebut dapat dipilih dengan tepat tentu akan dapat menghasilkan pemeriksaan MSCT yang optimal dan memiliki nilai diagnostik yang tinggi.

Bersambung ..... (Parameter dan Protokol scan dalam aplikasinya)

Pemeriksaan Neuro Perfusion

Pemeriksaan CT Neuro Perfusion

Pemeriksaan CT Neuro Perfusion atau CT brain perfusi adalah pemeriksaan dengan peralatan CT Scan yang dilakukan bersamaan dengan pemyuntikan media kontras (dynamic scan) dengan tujuan  mendiagnosa adanya Acute Ischemic Stroke (stroke dini/awal) atau tumor pada jaringan otak. Pemeriksaan ini akan dijadikan sebagai data untuk mengevaluasi quantitative dari data CT dinamik pada cerebral/otak yang diikuti injeksi media kontras dengan konsentrasi dan kecepatan tinggi.

TUJUAN
Untuk mendapatkan gambaran Cerebral Blood Flow, Cerebral Blood Volume, Mean Transit Time otak sehingga dapat mengetahui dan mendiagnosa adanya acute ischemic stroke dan/atau tumor otak dengan menggunakan aplikasi Neuro Perfusion.

KRITERIA GAMBAR
1. Mencakup gambaran daerah seluruh kepala dari Base sampai Cerebrum dan vertex (Sama dengan pemeriksaan Head CT rutin.
2. Posisi simetris dan center.
3. Window / Kernel : Cerebrum , H 31-41 s


PROSEDUR
1. Pasien diposisikan sesuai dengan pemeriksaan CT Kepala rutin head first
2. Kepala di fiksasi dengan baik dan kencang (untuk menghindari gerak pada saat pemeriksaan)
3. Ketinggian dan posisi kepala simetris dan center.
4. Dibuat Topogram Kepala Lateral mencakup seluruh bagian kepala (Pemeriksaan sama dengan pemeriksaan kepala rutin).
5. Menentukan daerah scan (pemeriksaan dilakukan dua kali; Kepala rutin dan Perfusion/Dynamic scan)
- Untuk Kepala rutin mencakup daerah Base dan Cerebrum
- Untuk Dynamic Scan di daerah Basal Ganglia pada level Inner Capsule (lihat Gambar di Bawah).
6. Melakukan scan pada daerah yang telah ditentukan.
7. pada Dinamik Scan dilakukan bersamaan dengan injeksi kontras.
8. Komunikasi dengan pasien saat akan melakukan injeksi (supaya tidak kaget dan tidak bergerak)
9. Setelah pemeriksaan selesai, buka aplikasi NPC (Neuro Perfusion CT) dan loading data tersebut.

Penyuntikan Contrast Medium
Pemeriksaan ini membutuhkan scan delay yang secepat mungkin (antara scan dan star Injeksi bersamaan). Pada kasus tertentu injeksi Media Kontras delay start scannya dapat di tambah beberapa detik misal untuk pasien dengan cardiac outputnya sangat rendah.

IV injection protocol
Contrast medium Non-ionic dengan Concentration 300 – 370 ml, Injection rate 6-8 ml/sec.Total volume 40 ml
# delay scan secepat mungkin (2-5 s).
# Jika flow rate dirasa terlalu tinggi untuk pasien dengan kondisi tertentu ( tidak direkomendasikan oleh dokter karena suatu hal), maka dapat dikurangi menjadi 5 ml/s. Tentunya dengan konsekwensi Image quality berkurang tapi masih memiliki nilai diagnostic yang baik.
# mage quality dapat juga di perbaiki dengan pemberian saline/NaCl ( 30-40 ml) dengan flowrate yang sama .
# Pastikan memakai IV line (Abocath) dengan ukuran besar 18 dan Media kontras yang bersuhu hangat (suhu tubuh).

Tip dan Trick
•Selama pemeriksaan dinamik scan kepala tidak boleh bergerak sama sekali. Jadi pastikan dengan menggunakan fiksasi kepala yang baik dan kencang
 •Posisi potongan (area scan ) untuk pemeriksaan Standar perfusion adalah memotong daerah Basal Ganglia pada level Inner Capsule . Pada area ini diharapkan juga mencakup daerah vascular cerebral yang sering terjadi acute stroke dari daerah Carotis
•Pemeriksaan dilakukan tanpa penyudutan gantry. Oleh karena itu posisi pasien sebaiknya yang menyesuaikan. (lihat gambar Topogram dibawah ini)
•Daerah lensa mata jangan pernah menjadi area scan untuk pemeriksaan dinamik scan.

 Contoh : standard slice through the basal ganglia in a lateral topogram.


  Informasi Tambahan dalam melakukan evaluasi CT (Neuro) Perfusion :
# MIP  (Maximum Intensity Projection) : Menampilkan gambaran yang memberikan informasi keberadaan media kontras pada daerah cerebral.
Gambaran Maximum Intensity Projection hasil pemeriksaan CT perfusion.

# CBF (Cerebral Blood Flow) : Menampilkan gambaran flow darah (media kontras) yang ada pada cerebral setelah penyuntikan media kontras. Skala pengukuran dalam  ml/100/minutes

Gambaran Cerebral Blood Flow (ml/100/minutes)

# CBV (Cerebral Blood Volume)
Gambaran Cerebral Blood Volume (rata-rata volume relatif darah). Skala pengukuran ml/1000ml. Jika didapat nilai 50 pada gambaran berarti volume darahnya 50%
Gambaran CBV
 # Time to Peak
Waktu pencapaian puncak enhancement (Penyangatan kontras media) pada suatu region. Skala Pengukuran 0,1 s (detik). Jika didapat nilai 135 berarti time to peak nya 13,5 detik
Gambaran TTP
Pada pemeriksaan perfusion dengan stroke akut biasanya ditunjukan dengan gambaran CBF dan CBV seperti halnya dengan menggunakan hasil pemeriksaan MRI yang menggunakan PWI atau DWI. Hasil pemeriksaan CT Perfusion dapat membantu memperkirakan jaringan cerebral yang masih aktif dan yang sudah tidak aktif yang beresiko terjadinya infarct (jika tidak segera ditindaklanjuti dengan terapi). Dari perbedaan warna yang tampil sebenarnya sudah dapat dibedakan mana daerah yang normal ataupun mana daerah yang mengalami gangguan ischemic.

Tetapi untuk mengetahui berapa nilai CBF atau nilai CBV nya maka perlu dilakukan proses penghitungan sehingga didapat hasil dalam bentuk nilai atau angka. Untuk melakukan penhitungan dan pengukuran dapat dilakukan dengan melakukan penandaan pada daerah (ROI) yang ingin diketahui nilai CBF dan CBVnya. Caranya adalah sebagai berikut :
  1. Ketika gambaran parameter seperti MIP, CBF, CBV dan Time to Peak sudah tersedia lakukan penandaan dengan “Circular atau freehand” ROI . Pilih di Tool2
  2. Buatlah ROI pada gambaran yang terdapat kecurigaan adanya infarct (warna yang gelap), pada parameter gambar Time to peak.
  3. Isi nilai threshould CBF dan CBV (CBF=35 dan CBV=1,2, merupakan nilai ambang normal)
  4. Klik icon Advanced ROI Analysis
  5. Akan muncul parameter gambar dengan dua warna (merah dan kuning) dan informasi/text mengenai nilai M,A,R, TAR,dan NVT (lihat keterangan dibawah)
  6. Jika nilai area parencym yang didapat dibawah nilai ambang normal (treshould) yang kita isi, maka akan berwarna merah = NVT (Non Viable Tissue)
  7. Jika yang didapat dibawah treshould CBF tetapi diatas treshould CBV, ditandai warna kuning = TAR (Tissue at Risk)
  8. Kita bisa membandingkan ROI dengan sebelahnya (Miroring) sehingga didapat nilai dari dua daerah ROI (membandingkan dengan yang normal). Ditandai dengan 1a dan 1b.
NB :

Nilai bisa berbeda tergantung pembuatan ROI.
Selain itu informasi (Image Text) yang dapat diperoleh adalah :
  • A = Luas area (cm2 )
  • M = Nilai rata-rata seluruh daerah yang ditandai (ROI), satuan Unit.
  • R = Rasio nilai rata-rata pada daerah 1a dibanding pada daerah 1b.
  • NVT = Non Viable Tissue : Daerah yang dianggap merupakan daerah ischemic (Oligemia).
  • TAR = Tissue at Risk : Daerah yang memiliki resiko (Penumbra).

Gambaran Konsep Penumbra ‘Astrupp 1977” :
Gambaran ini menjelaskan tentang kriteria nilai CBF yang di dapat jika dihubungkan dengan tingkat kelainan yang diderita oleh pasien.

Penutup

Pemeriksaan CT Perfusion adalah salah satu cara penegakan diagnosa untuk kasus – kasus Stroke Ischemic selain dengan pemeriksaan MRI (PWI dan DWI)
Dalam pemeriksaan CT Perfusion, radiographer perlu perhatian lebih tentang pemakaian media kontras yang memerlukan flow rate tinggi (5-8 ml/s). Hal inilah yang menjadikan CT Perfusion lebih bersifat invasif (tambahan adanya radiasi yang besar) dibandingkan dengan MRI perfusion.
Adanya software CT Perfusion sangat membantu Radiologist dalam mengetahui nilai CBF dan CBV dan parameter lain untuk dapat menegakkan diagnosa yang tepat dan akurat, khususnya pada penanganan kasus Stroke Ischemic.

Selasa, 13 Maret 2012

Overview Dual Energy CT from DSCT (DualSource CT)

Overview Dual Energy CT from DSCT (DualSource CT)
Note : 
Dual Source CT scanner adalah Scanner yang menggunakan dua tabung Xray dan dua set detector pada waktu yang bersamaan dengan energy (voltase) yang berbeda.

Pemeriksaan yang menggunakan dua energi yang berbeda tersebut sering disebut Dual Energy.  Ketika akuisisi data spiral dilakukan dengan dua energi , maka terbentuklah dua set data ; satu data per tabung x ray yang masing masing memiliki perbedaan energi (140 kV dan 80 kV)
Karena adanya perbedaan energy yang dikenakan pada suatu obyek maka akan terdapat perbedaan attenuasi pada jaringan yang sama. Perbedaan attenuasi ini akan memberikan nilai Index (DEI ; Dual Energy Index) yang berbeda juga sehingga dari nilai tersebut dapat digunakan untuk membedakan komposisi kimia material

Selanjutnya dengan software DE (Dual Energy) memungkinkan kita dapat menampilkan gambar dari kombinasi kedua data tersebut secara bersamaan dan dapat mengevaluasi baik secara qualitative (membedakan gambaran organ) maupun kuantitatif (pengukuran dan perhitungan). Ada beberapa aplikasi yang dapat dilakukan, tergantung pada jaringan atau organ yang akan dinilai dan dievaluasi diantaranya adalah sebagai berikut :

-         Tendons : membedakan jaringan otot dan jaringan lunak lainnya

-         Kidney stone : Membedakan jenis batu/calcium ; Batu oxalat atau uric acid (Asam urat)

-         Hard plaques pada vessel besar : Memisahkan gambaran kalsifikasi pada pembuluh darah

-         Perfusion Blood Volume pada Lung : memberikan gambaran infarc (kelainan sirkulasi darah) pada paru-paru.

-         Non Virtual Contrast  : mendapatkan gambaran non contrast media pada pemeriksaan liver/abdomen dengan contrast media 

-         Bone removal pada brain dan body : Mendapatkan gambaran pembuluh darah tanpa tulang.

Kenapa pemeriksaan diatas dapat dilakukan?

Dengan software DE postprocessing memungkinkan  dilakukan untuk mendapatkan informasi komposisi kimia pada jaringan tubuh akibat adanya perbedaan energi yang mengakibatkan perbedaan koefesien atenuasi dan DEI sehingga dapat memberikan informasi struktur anatomi dan patologi yang ada pada jaringan yang diperiksa.


(Disampaikan dalam acara Diskusi Pengayaan Materi “ DSCT at Dual Energy Application”
Di D-IV Poltekes Depkes RI  Jakarta  Jurusan Radiodiagnostik dan Radioterapi – 10 Maret 2012)

Selasa, 08 Maret 2011

MSCT Dalam Onkologi

MSCT Dalam Onkologi

Imagine the clinical benefits of a solution for oncology imaging created by synergizing the most innovative CT scanner technologies and trendsetting software applications. Images of exceptional resolution, quickly and effortlessly translated into the information you need to make confident treatment decisions. You enjoy high workflow efficiency while offering superior patient care.Harapan akan adanya solusi untuk pencitraan onkologi telah diwujudkan dengan  diciptakannya sebuah sinergi antara teknologi CT scan yang paling inovatif dan trend aplikasi perangkat lunak (software). Pemeriksaan CT Scan yang luar biasa cepat, mudah dan resolusi yang tinggi dengan informasi klinis yang lengkap dibutuhkan untuk membuat keputusan pengobatan yang tepat dan lebih akurat. Dengan adanya sinergi ini, kita akan  menikmati alur kerja yang lebih efisien dan memberikan perawatan/pelayanan pasien yang lebih baik dan bermutu. Sebagai contoh This is exactly what Siemens SOMATOM® CT scanners in combination with the CT Oncology Engine offer you.adalah apa yang telah Siemens ciptakan dengan SOMATOM® CT scannernya dengan kombinasi software CT Oncology Engine. A unique combination of innovative CT technologies for precision imaging, like z-Sharp™ or 3D
Seperti telah diketahui teknologi inovatif Siemens dalam pencitraan CT yang presisi, akurat dan mudah dengan adanya teknologi z-Sharp ™, visual 3D dan integrasi sistem reporting (hasil analisa) yang merupakan upaya paling akhir dilakukan oleh Siemens. Intervention, and time-saving software applications including syngo® LungCAD (computer aided detection) and syngo CT Oncology.Perangkat lunak aplikasi ini mudah dalam pengoperasiannya (menghemat waktu proses evaluasi) dan dapat dirasakan di dalam software  syngo ® LungCAD (Computer Aided Detection) dan CT syngo Onkologi.
Our unique spiral Dual Energy applications will expand your horizons towards tissue differentiation for tumor evaluation.From detection and evaluation to intervention and follow -up, our oncology solutions are designed to help take the guesswork out of your day.Dari deteksi ,evaluasi sampai intervensi dan follow up, Software CT onkologi ini dirancang untuk membantu klinisi We help you achieve the best possible clinical outcomes in oncology CT imagidan membantu mencapai hasil klinis yang terbaik di bidang spesialis onkologi.
Detection

Deteksi
• WorkStream4D™ saves time with direct 3D Recon.          Pada umumnya klinisi ingin melihat semua gambaran massa tumor yang relevan dengan klinis secara jelas dan akurat dan juga ingin menjadi yakin tidak kehilangan informasi sedikitpun mengenai keberadaan tumor dan penyebarannya. Inovasi unik seperti teknologi-z Sharp dan CARE Dose4D ™ memastikan secara rutin mendapatkan kualitas gambar terbaik dengan dosis pasien yang terkontrol. SureView™ delivers exceptional imaging for multiphase liver studies or of vasculature for surgical planning. SureView ™ memberikan pencitraan yang sangat baik untuk studi liver/hati multifase atau pembuluh darah untuk perencanaan bedah/operasi. And with highest resolution down to 0.33 mm, tumor edges can be well defined for confident treatment planning. Dan dengan resolusi tertinggi  (0,33 mm), tepi tumor dapat didefinisikan dengan baik untuk terapy plan yang tepat dan akurat.
 allow you to obtain morphological information and perform tissue characterization using two different energy levels in a single spiral scan.1) But that's not all – Siemens helps you manage your imaging data, providing intelligent tools for real-ti me direct 3D reconstruction and off-line data processing.Clinically proven software tools like syngo LungCAD2) will help you save time and improve your outcomes for lung cancer evaluation.          Terbukti secara klinis perangkat lunak seperti LungCAD akan membantu klinisi  menghemat waktu dan meningkatkan hasil evaluasinya untuk kasus nódul paru dan kanker paru-paru (1), State-of-the-art syngo Colonography with syngo Colonography PEV aids in the  visualization of colon polyps and incorporates color coding of unseen areas and tagged stool, which together with 3D panoramic viewing of the colon, helps you to be more confident that you have not missdan syngo Colonography dengan syngo Colonography PEV membantu dalam visualisasi dari polip usus besar dan memberikkan kode warna dari area yang tak terlihat dan memberikan tanda/marker, yang bersama-sama dengan tampilan 3D panorama dari usus besar, membantu klinisi menjadi lebih percaya diri.
clinically relevant lesions.          And with the increasing routine use of PET/CT for functional tumor assessDan saat ini juga terdapat  penggunaan rutin PET / CT untuk penilaian tumor fungsional, dengan adanya the seamless integration of image fusion will help you be ready to address the widening spectrum of  diagnostic demands in today's routine oncology imaging. integrasi PET dan CT yang dapat melakukan fusi gambar sehingga akan membantu klinisi memberikan hasil diagnosa yang tepat, juga diharapkan dapat memenuhi tuntutan pencitraan diagnostik onkologi yang akurat dan terpercaya.
1) Only available on SOMATOM Definition. 2) syngo LungCAD is not designed to be used as a(1) syngo LungCAD tidak dirancang untuk digunakan sebagai first reader tool. alat pembaca pertama

<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
EvaluationEvaluasi
syngo CT Oncology – automated one-click 3D segmentation of liver and lung lesions plus other  solid lesions and lymph nodsyngo CT Onkologi – dengan satu klik akan mendapatkan 3D segmentasi hati dan paru-paru ditambah lesi lesi padat lainnya dan kelenjar getah bening. Dan mendapatkan hasil • Taking out the guesswork – automated measurement of tumor size: RECIST, WHO, 3D volume, and total tumor burden.pengukuran otomatis ukuran tumor: dalam RECIST, WHO, volume 3D, dan total tumor burden (beban). Evaluating tumors accurately and reliably can be challengMengevaluasi tumor secara akurat dan yang dipercaya menjadi tantangan bagi klinisi dalam bidang onkologi.
Manual measurement and reporting can be a time-consuming, error-prone procePengukuran manual bisa memerlukan waktu proses yang lama dan rawan kesalahan.Siemens understands that you want to offer the most accurate tumor evaluation you can, but that you also want to do so as quickly as possible. That's why Siemens delivers unique, intelligent software solutions with automated workflow for the tumors Itu sebabnya Siemens memberikan sebuah solusi perangkat lunak yang unik, cerdas dengan alur kerja otomatis untuk evaluasi tumor rutin sehari-hari.
you are evaluating everyday. syngo CT Oncology offers automated 3D tumor segmentation and measurement, delivering RECIST, WHO, 3D volume, maximum diameter and total tumor burden at the click of a buttonsyngo CT Onkologi menawarkan segmentasi dan pengukuran otomatis tumor 3D, memberikan hasil dalam satuan RECIST dan WHO, volume 3D, diameter maksimum dan total beban tumor di satu tombol. There are dedicated programs, optimizing the workflow for evaluation of lung and liver lesions and lymph nodes, and a general tool automates the workflow for other solid lesions such as metastatic Tersedia 3 program khusus, untuk mengoptimalkan evaluasi nódulo di paru-paru, lesi liver/hati dan kelenjar getah bening, serta  general lesi yang alur kerjanya otomatis untuk menemukan lesi padat (massa tumor) dan metastaselesions in malignant melanoma. lesi pada kasus melanoma ganas. The single auto-report is DICOM SR and  DICOM RT compatible. So it's  easily stored in PACS or can be used for radiation therapy planning.
Sistem pelaporan (Reporting) secara auto dalam format DICOM SR dan DICOM RT dimana  kompatibel  dengan sistem PACS. sehingga mudah disimpan atau dapat digunakan untuk perencanaan terapi radiasi. For evaluation of lesions in the colon, syngo Colonography facilitates auto-measurement of lesions,  synchronous reading of prone and supine
Follow-up

Follow Up/ Tindak lanjut
Follow up (Follow-up on tumor growth needn't be  imprecise or something you do manually. tindak lanjut) pada evaluasi pertumbuhan tumor tidak dapat tepat jika dilakukan secara manual. Our belief is that the combination of superior image quality and streamlined intelligent software tools can help you be faster and more confident about finding the right lesion and enable faster and more accurate assessment of tumor growthTapi dengan adanya kombinasi  kualitas gambar yang tinggi dan perangkat lunak yang efisien dan cerdas dapat membantu klinisi menjadi lebih cepat dan lebih percaya diri dalam menemukan lesi yang tepat serta memungkinkan lebih cepat dan lebih akurat dalam menilai pertumbuhan tumor. To obtain the best possible outcome you need the best possible image quality.
Confident tumor follow-up is not only about the best possible image quality, it's also about access to intelligent software tools.That is why we incorporated fully automated lesion matching and percentage tumor growth evaluation into our newest software, syngo CT Oncology.          Pencocokan dan evaluasi persentase pertumbuhan tumor dapat otomatis dilakukan sepenuhnya oleh  software syngo CT Onkologi. With one click you can match all marked lesions from the previous and follow-up exams and, following the same easy workflow, the software calculates the change for the target lesions in percent. Dengan satu klik klinisi bisa mencocokan dengan semua lesi yang telah dievaluasi sebelumnya dan dengan alur kerja yang cepat, perangkat lunak tersebut dapat menghitung perubahan lesi target dalam persen. What's more, color coding of total tumor burden will help you see at a glance if the patient's situation is getting better, worse or is unchanged. Terlebih lagi, kode warna tumor burden total akan membantu klinisi melihat sekilas apakah semakin lebih baik, lebih buruk atau tidak berubah. Whether you are Intervention

Intervensi
CT intervention is about accuracy and speed, while delivering the minimum possible dose to your patients, your staff, and yourself.Bicara tentang intervensi CT adalah tentang akurasi dan kecepatan, juga tentang dosis minimum yang mungkin untuk pasien, Paramedis (staf radiologi) dan klinisi (dokter). Whether you perform fluoroscopic or non-fluoroscopic procedures, you want an imaging solution that gives you first-class images quickly and in such a way that you can see yourDalam melakukan intervensi CT bisa dilakukan prosedur fluoroscopic  yang memberikan gambar yang baik sehingga klinisi dapat melihat needle position in an instant. posisi jarum dalam sekejap. Selain itu prosedur pengoperasian alat  yang mudah dalam positioning dan kemampuan rekonstruksi gambar yang cepat sangat dibutuhkan dalam Intervensi CT. CT Scanner Siemens yang ada dapat dan mampu memenuhi tuntutan tersebut.

Sumber : Siemens Healthcare Sector - Guide to Oncology CT - 2008 

Kamis, 29 Oktober 2009

CT Angio Carotis

Pemeriksaan daerah arteri carotis bertujuan untuk mengevaluasi fungsi dan anatomi arteri carotis eksterna dan Interna pada pasien dengan keluhan (pada umumnya bersifat screening atau post op); migraen, stroke ischemic, dan adanya malfunction pada arteri tersebut. Keberadaan stenosis akibat adanya calcification atau soft plaque pada arteri carotis dapat diperlihatkan dengan jelas.
Alat dan Bahan :
(Merupakan standar yang sering dipakai di lapangan, merk dan type diserahkan pada masing masing user)

1. Abbocath / Venflon/ sureflow No. 18 atau 20 : 1
2. Threeway stopcock : 1
3. Spuit 20 cc : 1
4. Spuit 1 cc : 1
5. Syringe Connector : 1
6. Syringe Injector : 1
7. Bahan contrast (Iopamiro / optiray / ultravist / omnipaque) = 60 cc
8. Water for injection / NaCl : 50 cc

Persiapan
- Puasa minimal 3 s/d 4 jam sebelum pemeriksaan
- Periksa ureum creatinin
- Pasang sureflow + Threeway sedapat mungkin pada vena antecubital kanan
- Cek patensi dengan menyuntikan 15-20 cc NaCL melalui threeway

Posisi dan prosedur:
- Supine, head first
- Gunakan protocol CTA Carotis
- Buat topogram area leher
- Atur FoV untuk mencakup seluruh wilayah dari level T2 - Maxilla
- Letakkan premonitoring pada ketinggian T2 setinggi arcus aorta (Arcus Ao)
- Letakkan trigger pada arcus aorta dan set IV Bolus pada 100 HU (Teknik Bolus Tracking)
  Jika ingin menggunakan setting delay time maka buat setting delay time pada 12 detik s/d 16 detik 
  (tergantung alat CT yang dipakai)
- Atur volume kontras 60 – 70 cc Atau dengan formula :
         Vol CM = (scan time + 2) x flow rate
- Flow rate diset 3 - 4 cc / detik
- Start injeksi berbarengan dengan start scanning/exposure

Post Processing
- Buat recon tertipis yang dimungkinkan (0,6 mm dan recon increment 0,4) dengan window CT angio dan
  Kernels Smooth (H10s – H20s)
- Proses dalam 3D dalam bentuk MIP Thin
- Atur ketebalan MIP (klik kanan) antara 20 – 30
- Cari dan perlihatkan : Arteri Carotis dalam berbagai sisi
- Type gambar yang dicetak MIP Thin, dan VRT.
- Cetak gambar di film sejumlah + 9 s/d 12 gambar dan pada kertas 4 s/d 6 gambar.


Gambar MIP Thin, VRT dan MIP Carotis

Selanjutnya .... Body CT Angio,
(terus ikuti dan beri komentar (positif maupun negatif) untuk perbaiki dan penyempurnaan isi blog ini) Terima kasih.................

Rabu, 21 Oktober 2009

Panduan Pemeriksaan CT Angiografi


Pada era sekarang pemeriksaan CT dengan menggunakan Multi Slice CT memungkinkan dilakukannya pemeriksaan Angiografi (pembuluh darah arteri), yang dikenal dengan istilah pemeriksaan CTA (CT angiografi). Hal ini dapat terjadi karena MSCT memiliki kemampuan dan kecepatan yang tinggi dan resolusi gambar yang baik sehingga mampu mendapatkan hasil pemeriksaan CT yang sangat baik, detail dan informative, dulunya mungkin hanya bisa dilakukan dengan Angiografi konvensional (kateterisasi). Pemeriksaan ini berkembang seiring dengan peningkatan kemampuan alat CT itu sendiri (baik dari sisi kecepatan maupun detail gambar) dan ditambah dengan teknik CTA ini yang dirasa lebih non invasive (relative lebih nyaman buat pasien).

Adapun teknik pemeriksaan CT Angiografi yang dapat dilakukan dengan MSCT adalah : Cerebral, Carotis, Aorta, beserta cabang aterinya (art. Coeliac, Hepatik, Lienalis, Renalis, Mescentrika Sup. dan Inf.) Iliaca sampai ke peripheral (Femoralis dan Tibialis), Cardiac (MSCT 64 slice keatas) dan pembuluh darah arteri lainnya.

Pada pembahasan ini , akan dijelaskan Mengenai teknik pemeriksaan CT Angiografi satu per satu yang dimulai dari persiapan, parameter dan teknik scanning serta post processing untuk mendapatkan hasil akhir (gambar) yang diperlukan , secara ringkas dijelaskan sebagai berikut :

CT Angio Cerebral

Alat dan Bahan :
(Merupakan standar yang sering dipakai di lapangan, merk dan type diserahkan pada masing-masing user):
1. Abbocath / Venflon/ sureflow No. 18 atau 20 : 1
2. Threeway stopcock : 1
3. Spuit 20 cc : 1
4. Spuit 1 cc : 1
5. Syringe Connector : 1
6. Syringe Injector : 1
7. Bahan contrast (Iopamiro / optiray / ultravist / omnipaque) = 60 - 70 cc
8. Water for injection / NaCl : 50 cc

Persiapan  :
- Puasa minimal 3 s/d 4 jam sebelum pemeriksaan
- Periksa ureum creatinin
- Pasang sureflow + Threeway sedapat mungkin pada vena antecubital kanan
- Cek patensi dengan menyuntikan 15-20 cc dan flowrate 4 cc/s NaCL melalui threeway

Posisi dan prosedur:
- Supine, head first
- Gunakan protocol CTA Cerebral telah dibuat dengan Tehnik Bolus Tracking
- Buat topogram area kepala
- Atur FoV untuk mencakup seluruh wilayah arteri cerebral (lihat gambar.1)
- Letakkan premonitoring pada kretinggian cervical 2-3
- Letakkan trigger (ROI) pada arteri carotis interna dan set IV Bolus pada 100 HU
- Atur volume kontras 60 – 70 cc Atau dengan formula ( Vol CM= scan time x flow rate)
- Flow rate diset 3 - 4 cc / detik
- Start injeksi berbarengan dengan start scanning
- Perhatikan gambar, jika ternyata trigger (ROI) meleset dan terjadi enhancement di tempat lain, tekan start secara manual

Post Processing:
- Buat recon tertipis yang dimungkinkan (0,6 mm dan recon increment 0,4) dengan window CT angio dan Kernels Smooth (H10s – H20s)
- Proses dalam 3D dalam bentuk MIP Thin
- Atur ketebalan MIP (klik kanan) antara 20 – 30
- Cari dan perlihatkan : ACA, ACM, ACP, Circle of Willis, Basillaris dan Arteri Vertebralis-basilaris
- Type gambar yang dicetak MIP Thin, dan VRT.
- Cetak gambar di film sejumlah + 9 s/d 12 gambar dan pada kertas 4 s/d 6 gambar.

Protocol Scan : 
Sensation 64 HeadAngio 2nd reconstr.
kV 100
Effective mAs/Quality ref. mAs 160
Rotation time 0.500 sec.
Acquisition 64 x 0.6 mm
Slice collimation 0.6 mm
Slice width 4.0 mm 0.6 mm
Feed/Rotation 23.0 mm
Pitch Factor 1.20
Increment 4.00 mm 0.4 mm
Kernel H20f H10f
CTDIVol 15.2 mGy
Effective dose Male: 0.62mSv
Female: 0.67 mSv

Bersambung ............................... CT Angio - Carotis.

Selasa, 13 Oktober 2009

Pemeriksaan CT Urografi atau CT IVP

Pendahuluan

Sejak tahun 1929 kita mengenal adanya pemeriksaan fungsi dari saluran kencing (traktus urinarius) yang sering disebut BNO – IVP. Seiring dengan perkembangan alat diagnostik diantaranya adalah peralatan CT scan saat ini, pemeriksaan fungsi saluran kencing ini dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan CT scan dan memungkinkan kita dapat menghasilkan gambaran volumetric (kemampuan membuat potongan tipis secara spiral) sehingga mampu mendeteksi kelainan – kelainan organ intra abdominalis pada umumnya dan pada saluran kencing pada khususnya secara cross-sectional dan dengan proses pemeriksaan yang cepat, teknik pemeriksaan CT scan ini sering disebut Pemeriksaan CT Urografi.

Pemeriksaan CT Urografi adalah pemeriksaan CT scan pada saluran kencing (traktus urinarius) sebelum dan sesudah pemberian media kontras intravena untuk mendeteksi berbagai kelainan yang ada di daerah saluran kencing (traktus urinarius).

Teknik dan hasil gambaran pemeriksaan CT urografi yang lebih informative dan lengkap (mendapatkan gambaran 3D) ini memungkinkan menggantikan teknik pemeriksaan BNO-IVP yang sudah ada. Pemeriksaan CT Urografi ini dapat menilai fungsi ginjal, ureter, dan vesika urinaria sekaligus secara non invasif dan saat ini masih merupakan pilihan utama untuk evaluasi kasus kolik ginjal/ ureter, hematuria, deteksi adanya batu ataupun tumor pada traktus urinarius. Selain itu juga berguna pada kasus kasus Low Back Pain (LBP), infeksi saluran kencing berulang, trauma dan evaluasi kelainan-kelainan congenital serta persiapan transplantasi ginjal (calon donor ginjal).

Akan tetapi adanya isu tentang radiasi menjadikan pemeriksaan CT urografi ini belum dapat dijadikan sebagai pemeriksaan utama pada kasus kelainan saluran kencing, dan beberapa vendor pembuat peralatan CT Scan ini masih terus mengembangkan teknik pemeriksaan yang semakin rendah dosis radiasinya.

Teknik Pemeriksaan CT Urografi

1. Persiapan Pasien :

o Hampir sama dengan pemeriksaan BNO-IVP, minimal pasien disarankan puasa tidak makan padat 4 jam sebelum pemeriksaan CT dilakukan.

o Setengah jam atau 1 jam sebelum pemeriksaan, pasien minum air putih sebanyak 500 – 600 cc, untuk menjaga keadaan hidrasi yang baik sehingga ekskresi urin akan maksimal dan menghasilkan opasifikasi dan distensi optimal pada traktus urinarius bagian atas.

o 2-3 menit sebelum penyuntikan kontras media, diberikan suntikan 10 mg furosemide (Lasix) intra vena, untuk mendapatkan opasitas maksimal pada pelvicokalises dan ureter.

2. Pemberian Media Kontras dan Teknik Pemeriksaan

# Plan Foto/BNO Polos

Scanning pertama tanpa pemberian media kontras, terutama untuk kasus nephrolithiasis sangat dianjurkan, sehingga gambaran batu tidak superposisi dengan kontras media.
(Area Scan seluruh abdomen pelvis)

# Fase Nephrographic


Diberikan media kontras dengan konsentrasi media kontras 300 ml/g, Volume sebanyak 100 ml dengan kecepatan (flowrate) 3 ml/detik.

Dilakukan scanning kedua setelah delay 100 detik pasca kontras media disuntikan
(Area Scan Hanya daerah Ginjal saja)


# Fase Excetory/Ekskresi


Diberikan cairan NaCl (Saline) sebanyak 100 ml yang diberikan setelah pelaksanaan scan pertama dengan flowrate 2 ml/detik atau diberikan melalui infuse set dengan membuka penuh slang infuse.

Dilakukan scanning ketiga setelah delay 8 – 10 menit pasca kontras media disuntikan
(Area scan seluruh abdomen pelvis)

Jika opasitas segmental traktus urinarius (misal ureter) belum memadai maka dapat dilakukan scanning kembali dengan posisi pasien Telungkup (prone).



3. Post Processing

Dibutuhkan data irisan axial tipis 0,75 mm – 1 mm yang selanjutnya akan diproses di 3D task card untuk mendapatkan gambaran Coronal dan type gambar MIP Thin original maupun invert.

Selanjutnya dapat pula direkonstruksi untuk mendapatkan gambaran Volume Rendering (VRT) yang dilihat dari berbagai sudut berbeda.



Fig. 1. CT urography: (A) coronal MIP thin dan the corresponding coronal VRT (B) demonstrating the CT urographic image



4. Perbedaan dengan teknologi dan teknik pemeriksaan lain

BNO IVP :

( + ) Metode pencitraan diagnostic utama yang sudah dikenal lama dengan tarif lebih murah.

Mampu mendeteksi kemungkinan adanya lessi massa intraparenkim ginjal atau dalam pelviokalises atau vesica urinaria; menilai fungsi ginjal, derajat obstruksi, menentukan lokasi batu dan menampilkan gambaran anatomi saluran urinarius untuk persiapan prosedur pembedahan.

( - ) Tidak dapat membedakan masa kistik dengan padat dan tidak sensitive untuk mendeteksi masa ginjal dengan diameter kurang dari 2 cm, Tidak dapat menampilkan adanya batu radiolusen dan tidak membedakannya dengan gambaran tumor.

( - ) Persiapan lebih rumit dan lebih lama (pasien biasanya dipuasakan 10-12 jam sebelum pemeriksaan, di tambah dengan pemberian obat pencahar maupun suppositoria.

( - ) Prosedur BNO IVP memerlukan waktu sekitar 60 menit dengan melakukan kompresi 15 – 20 menit untuk distensi dan opasitas pelviokalises yang memadai.



UltraSonografi / USG :

( + ) Non Invasiv dan dinilai lebih aman karena tidak ada radiasi, cepat dan tak ada persiapan khusus, informatif khususnya untuk menilai ginjal. Sensitifitas 85 % untuk lesi ukuran lebih dari 3 cm, 82 % = 2-3 cm, 60 % = 1-2 cm, dan 26 % = kurang dari 1 cm.

USG dapat menampilkan gambaran hydronephrosis, hydroureter dan absennya aliran urin dalam ureter.

( - ) Tidak dapat menampilkan ureter secara keseluruhan, adanya udara dapat mengganggu tampilan gambar sehingga tidak dapat diperoleh window sonografik yang optimal.



MRI

( + ) Meskipun bukan metode pilihan untuk visualisasi traktus urinarius, dapat dipertimbangkan untuk kasus kasus tertentu, misal pemeriksaan pada anak-anak atau ibu hamil atau pasien dengan alergi kontras media. MRI sangat membantu dalam menetapkan stadium lesi malignitas ginjal dan evaluasi tumor kistik.

( - ) Lemah dalam deteksi batu, tarif lebih mahal dan pemeriksaan berlangsung lebih lama.



5. Paparan Radiasi CT Urografi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan McTavish and colleagues menemukan bahwa untuk dosis permukaan (skin doses) dari 3 kali scan hampir sama dengan pemeriksaan BNO IVP, tetapi untuk dosis effective pemeriksaan CT urography adalah lebih tinggi 1,5 kali dari pemeriksaan BNO IVP [McTavish JD, Jinzaki M, Zou KH, et al. Multi-detector row CT urography: comparison of strategies for depicting the normal urinary collecting system. Radiology 2002;225:783– 90].

Namun saat ini terus diusahakan oleh beberapa produsen peralatan CT Scan untuk membuat alat CT scan dengan dosis yang rendah tanpa mengurangi kualitas gambar dan nilai diagnostic, baik dilakukan dengan melalui software maupun dengan hardware yang digunakan. Misalnya Siemens dengan teknologi Adaptive Scanner nya (software) mampu menekan radiasi + 15 s/d 25 %, GE dengan membuat desain detektornya (hardware) dan lain sebagainya.





Gambar di atas dengan kasus Iatrogenic ureteral trauma. Gambar(A) Phase Excretory potongan axial daerah pelvis, gambaran CM menunjukan kebuntuan ureter kiri distal (tanda panah), Gambar B gambaran VRT CT urogram yang menunjukan hal yang sama pada segment distal ureter kiri.



Rabu, 19 Agustus 2009

Kontras Oral pada Pemeriksaan CT Scan Abdomen


Pemeriksaan CT Scan Abdomen membutuhkan keadaan usus besar yang bersih agar gambaran usus dapat tervisualisasi dengan baik oleh karena itu pasien biasanya dipuasakan terlebih dahulu (Persiapan pasien pemeriksaan CT Abdomen terlampir).
Pada pemeriksaan Abdomen dibutuhkan adanya pembeda pada struktur gambaran organ pencernaan dari gambaran struktur lainnya seperti Lymph nodes, massa atau abses pada abdomen. Beberapa tipe kontras untuk organ cerna al:

- Barium suspensi (1% - 2%) missal EZ-CAT
- Campuran Air dan Kontras Yodium (2% - 4%) (water soluble agent) mis.
Gastrografin, atau urografin (Untuk mengurangi rasa tidak enak, dapat dicampur dengan sirup,madu atau gula.
- Air minum saja sebagai kontras negatif

Waktu minum kontras tersebut sangat penting untuk memastikan kontras telah tersebar pada sistem saluran cerna. Oleh karena biasanya prosedur minum kontras diatur sbb :

Pemeriksaan CT Abdomen Atas :
Minimum 600 ml s/d 750 ml kontras dibagi 3 bagian/gelas (@ 200-250 ml)
- Gelas Pertama : diminum 30 menit sebelum pemeriksaan
- Gelas kedua : diminum 15 menit sebelum pemeriksaan
- Gelas ketiga : diminum 5 menit sebelum pemeriksaan

Pemeriksaan CT Abdomen-Pelvis
Minimum 800 ml s/d 1000 ml kontras dibagi 4 bagian/gelas (@ 200-250 ml)
- Gelas Pertama : diminum 1 jam sebelum pemeriksaan
- Gelas kedua s/d gelas ke 4 : diminum tiap 15 menit sesudahnya.
- Setelah gelas ke empat (terakhir) 5 menit kemudian pemeriksaan CT dapat dilakukan

Secara umum, untuk pemeriksaan CT Abdomen untuk melihat liver, Gallblader/kantung empedu (khususnya batu empedu), pancreas, usus halus, lesi pada ginjal dan untuk melihat sistem vascular (Arteriografi atau CT Angio) biasanya cukup digunakan Air saja sebagai kontras negatif.

Air lebih efektif untuk dapat menampilkan gambaran dari tepi dinding usus halus atau lambung lebih baik dan jelas dibandingkan menggunakan kontras positif (barium atau larutan kontras yodium) tambahan jika diperlukan evaluasi pada sistem vascular (CTAngio) akan lebih mudah untuk menampilkan gambaran vascular tersebut karena tidak ada superposisi antara barium dan kontras di arterinya.

Untuk kasus pasien dengan obstruksi colon, hanya air atau larutan kontras yang boleh diberikan, barium menjadi kontra indikasi.

Pada kasus pasien dengan pheochromocytoma, pemberian kontras intra vena dapat menyebabkan peningkatan hypertensi pasien.
Hal lain yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil optimal pada pemeriksaan CT scan Abdomen (type MPR dan VRT) selain kontras media adalah pengaturan parameter scan dan rekontruksi gambar seperti lebar kolimasi yang dipakai, recon increment dan ketebalan irisan yang dibuat.

Pemeriksaan CT Scan Thorax


CT Thorax Rutin

Indikasi Pemeriksaan :
Evaluasi variasi sistemik atau kelainan thorax; deteksi / follow up tumor/cancer (Limphoma, Carcinoma bronchus)

Hasil Yang diharapkan:
Mendapatkan gambaran yang jelas antara jaringan dan pembuluh darah di daerah thorax (Enhancement kontras) dan dapat membedakan daerah mediastinum dan struktur hillar dengan baik.
Dibuat dari area apex paru sampai dengan dibawah sinus costoprenicus atau beberapa klinisi menginginkan sampai daerah supra renalis untuk pemeriksaan post kontrasnya.

Teknik Pemeriksaan:
Pemberian kontras sebanyak 60-80 ml , 300 mg/ml di suntikan dengan flow rendah 1,5 -2,5 ml/dtk dan sedapat mungkin berdurasi lama (> 30 detik) untuk memastikan didapatnya fase kontras saat scan berlangsung pada daerah pembuluh darah thorax. Pemberian flushing (NaCl) disarankan untuk mengurangi artifact dari perivena (SVC), selain itu disarankan pula untuk melakukan scanning dengan arah caudo-cranial.

Untuk menentukan delay scan dibuat dengan rumus :

Delay = t INJ+ 6 s - t SCAN

t INJ : waktu/durasi penyuntikan
t SCAN : Waktu/durasi scan
6 s didapat dari delay untuk pemberiaan aba-aba

Pulmonary Arteries

Indikasi Pemeriksaan :
Acute pulmonary embolism, chronic thrombo-embolic pulmonary hypertension (CTEPH), pulmonary arteriovenous malformations (AVM), pulmonary artery aneurysms, and arteriovenous fistulas.

Hasil yang diharapkan :
Mendapatkan gambaran dengan enhancement kontras pada daerah Arteri Pulmonum yang diharapkan dapat mendeteksi adanya kelainan vascular , menunjukan adanya filling defect atau mural thrombus.

Teknik Pemeriksaan :
Sangat dibutuhkan kontras dengan konsentrasi tinggi (350-370) untuk dapat memberikan pembeda yang jelas antara vascular dengan jaringan lainnya terutama kelainan yang ada di daerah arteri dan kelainan intraluminalis. .
Pemberian kontras dengan flow rate 3-4 ml/detik (dengan injektor) dibutuhkan jika kontras yang digunakan dengan konsentrasi standar (300-350). Tapi jika menggunakan kontras dengan konsentrasi diatas 350 flow rate dapat diturunkan menjadi 2,5 - 3 ml/detik
Pemberian Saline (NaCl) flushing disarankan (30-50 ml dengan flow rate yang sama).

Delay scan diatur dengan rumus sbb:

Delay = t INJ+3 s – t SCAN

t INJ : waktu/durasi penyuntikan
t SCAN : Waktu/durasi scan
3 s merupakan batas minimal delay alat CT

Untuk pasien dengan gangguan pada sirkulasi jantung (CardioCirculatory distress/CTEPH), disarankan dengan flowrate rendah, sebab adanya gangguan fungsi pada cardiac outputnya akan mempengaruhi gambaran kontrasnya

Prosedur umum :

Topogram: AP, dengan panjang area topo : 512 mm.

Posisi Pasien : Pasien di posisikan supine, lengan tangan diposisikan nyaman di atas samping kepala (bersandar pada bantal)., kaki nyaman dengan pengganjal di lutut.

Pemeriksaan dibarengi dengan aba-aba : Tarik Nafas – Tahan – Nafas biasa

Post processing dibuat 2 window yaitu :
- Mediastinum (Jaringan) dengan kernel/filter : B30smooth
- Lung (Bronchus) dengan kernel/filter : B70 sharp

Ketebalan irisan : 8 – 10 mm untuk dicetak di film (+ 2-4 lembar)
Jika menginginkan gambaran coronal dan sagital yang baik dibutuhkan data rekonstruksi dengan irisan yang tipis 1 - 1,5 mm selanjutnya diproses di aplikasi 3D.

Protocol Pemeriksaan :

CT Scan : Somatom Sensation 64 Slice
kV : 120
Effective mAs/Quality ref. mAs : 100
Rotation Time : 0.5 sec.
Acquisition : 64 x 0.6 mm
Slice collimation : 0.6 mm
Slice width : 8.0 mm
Feed/Rotation : 26.9 mm
Pitch Factor : 1.40
Increment : 8.0 mm
Kernel : B31f dan B70f
CTDIVol : 7.7 mGy
Effective dose : Male: 3.53 mSv
Female: 4.46 mSv

Contrast medium IV injection

Start delay : 25 – 30 sec.
Flow rate : 2.5 ml/sec.
Total amount : 80 ml




Selasa, 07 Juli 2009


Prinsip Dasar dan Teknik Penyuntikan Media Kontras pada pemeriksaan MSCT

Perkembangan CT scan yang demikian pesat baik dari spatial resolution maupun temporal resolution memungkinkan tehnik pemeriksaan CT scan seperti CT Angiografi dan Cardiac CTA menjadi pemeriksaan rutin.
Perkembangan ini membuat penggunaan CM menjadi lebih efisien dan flexibel.
Diperlukan strategi dan teknik yang tepat untuk dapat mengoptimalkan penggunaan media kontras sehingga mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal.

Faktor2 yang mempengaruhi Enhancement (penyangatan) Kontras Media
Beberapa faktor penting yang mempengaruhi penyangatan media kontras dapat dikelompokan menjadi 3 kategori:
1. Faktor Pasien
2. Tehnik Penyuntikan MK
3. Faktor Scan (Parameter dan delay scan/timing).

Faktor Pasien :

Yang paling berpengaruh adalah “body weight” (berat badan pasien) dan “cardiac output” (cardiovascular circulation time).
Faktor yang lain tapi sedikit pengaruhnya adalah tinggi, gender, umur, akses Vena, Fungsi Ginjal, dan variasi patologis yang ada pada pasien.

Body Weight (Berat Badan Pasien)
Gambar di bawah ini menunjukan perbedaan tingkat penyangatan media kontras pada pasien dengan berat badan yang berbeda-beda.

(Gambar. 1)
Tips :
Untuk menjaga kestabilan puncak enhancemen media kontras pada pasien gemuk, yang harus dilakukan adalah meningkatkan dosis Iodine (Yodium) dengan menambahkan volume (ml) dan/atau konsentrasi (mg/ml).
Memperbesar flowrate juga dapat menambah penyangatan media kontras pada gambaran pembuluh darah.

Catatan: Waktu tempuh (Time To Peak) saat puncak enhancement ternyata tidak terlalu dipengaruhi oleh berat tubuh pasien (lihat gambar 1 di atas).

Cardiac Output

Faktor yang paling mempengaruhi waktu pencapaian puncak penyangatan media kontras adalah Cardiac output (cardiovascular circulation time). Jika Cardiac Output diturunkan, sirkulasi media kontras akan melambat, yang akan mengakibatkan keterlambatan pencapaian puncak enhancement pada arteri atau parenchym (gambar. 2).

Gambar. 2 : Menunjukan perbedaan waktu pencapaian puncak penyangatan media kontras dengan perbedaan Cardiac Output.

Pada pasien dengan Cardiac Output yang rendah mengakibatkan distribusi media kontras pada pusat sirkulasi peredaran darah sangat lambat dan untuk mendapatkan penyangatan kontras media tertinggi butuh waktu yang lebih lama dibandingkan pada pasien dengan Cardiac Output normal.

Tips
Ketika Waktu Scan menjadi hal yang penting, sangat dibutuhkan penghitungan/pencarian “delay scan” pada setiap masing2 pasien dengan Cardiac Output yang berbeda-beda. Scan delay dapat dicari dengan menggunakan tehnik pemeriksaan “test bolus atau bolus tracking”. (akan dijelaskan lebih lanjut pada bab tersendiri)
Faktor Penyuntikan Media Kontras

Yang berhubungan dengan Faktor tsb adalah sbb :
• Durasi Penyuntikan (Vol/FR),
• Flowrate (ml/s),
• Volume MK (ml),
• Konsentrasi (mg/ml)
dan
• Penggunaan Saline Flushing (NaCl)

Gambar. 3 : Menunjukan simulasi pemberian media kontras pada pasien yang sama dengan flow rate sama (2 ml/s) dan volume media kontras yang berbeda. Hasil menunjukan adanya peningkatan puncak penyangatan media kontras dan waktu pencapaiannya akibat adanya penambahan volume media kontras.


Durasi Penyuntikan kontras (Injection Duration)
Durasi penyuntikan kontras media ditentukan oleh perbandingan volume media kontras dengan flowrate penyuntikan, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

{injection duration = contrast volume ÷ injection rate}

Faktor durasi ini sangat mempengaruhi puncak dan waktu pencapaian penyangatan media kontras.

Tips
Penggunaan media kontras dengan konsentrasi tinggi atau Flowrate yang cepat membuat semakin cepat penyebaran media kontras untuk mencapai puncak penyangatan kontras media dan durasi/waktu penyuntikan semakin cepat.

Kecepatan pencapaian puncak CE dan pendeknya durasi penyuntikan dapat diaplikasikan untuk pemeriksaan Arteri (CTAngio), tapi untuk fase Parenchym dan fase vena tidak bagus.
Durasi Penyuntikan Pendek/cepat (low volume and/or high injection rate) menyebabkan cepat tercapainya puncak penyangatan kontras media pada fase arterial dan parenchymal enhancement à short scan delay.

Durasi Penyuntikan panjang/lama (high volume and/or low injection rate) menyebabkan lambatnya tercapai peak CE à dibutuhkan waktu tunda scan (scan delay) yang lebih panjang.
.

Injection Rate/Flow Rate
Dalam pemberian (penyuntikan) media kontras diperlukan teknik kecepatan atau flow media kontras yang tepat untuk mendapatkan puncak penyangatan yang optimal terutama untuk pemeriksaan CT Angiografi. Karena alas an inilah pemeriksaan CT Angiografi membutuhkan flowrate yang lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan CT rutin.


Gambar.4: menunjukan grafik waktu dan puncak pencapaian penyangatan media kontras dengan perbedaan FlowRate


Ketika Injection rate (Flowrate) ditingkatkan pada jumlah Volume media kontras yang sama, Puncak penyangatan media kontras akan meningkat dan waktu pencapaiannya lebih cepat.

Tidak hanya meningkatkan penyangatan kontras media pada Arteri saja tapi dengan Flowrate yang tinggi juga akan memberikan informasi/gambar yang menampilkan vase arteri dan vase vena pada saat bersamaan dengan baik.(fase arteri terlihat jelas dan fase vena porta terlihat dengan baik (mencapai puncaknya) (gambar.5)







Gambar.5 : Menunjukan simulasi pemberian media kontras dengan flowrate tinggi dan memberikan grafik penyangatan pada arteri dan fase vena pada waktu yang hampir sama (+ 70 detik).

Hal ini sangat berguna untuk pemeriksaan pada CT Abdomen multi fase atau pada pemeriksaan liver, pancreas dan ginjal.
.
Tips untuk Injection Rate

Untuk pemeriksaan CT Angio (Puncak penyangatan media kontras ada di daerah aorta / arterial à flowrate sekitar 5-8 ml/s, dan
Untuk puncak penyangatan daerah liver/hepatic yang baik à Flowrate sekitar 3-5 ml/s.

Penyuntikan dengan kecepatan tinggi à perbedaan penyangatan media kontras beberapa phase sangat mencolok à memungkinkan pengambilan scan dengan phase yang berbeda-beda (multi phase) misal pada pemeriksaan abdomen (Liver, Pancreas dan Ginjal) à deteksi kelainan lebih baik.



Concentration (Konsentrasi Media Kontras)
Konsentrasi media kontras akan mempengaruhi puncak penyangatan media kontras dan waktu pencapaiannya pada pemeriksaan Arterial , tapi untuk pemeriksaan Liver/hepar hal ini tidak berpengaruh.(gambar 6).
Pada pemeriksaan CTAngio dianjurkan memakai media kontras dengan konsentrasi 300 mgl/ml ke atas. Saat ini di Indonesia terdapat 350 mgl/l dan 370 mgl/l.
Gambar 6 : Menunjukan pencapaian puncak penyangatan media kontras dengan perbedaan konsentrasi media kontras yang diberikan, semakin tinggi konsentrasi media kontras nya semakin tinggi dan cepat pencapaian puncak penyangatannya.

Tips

Pemeriksaan CT dengan MSCT yang sangat cepat, Konsentrasi media kontras yang tinggi diperlukan untuk mendapatkan puncak penyangatan media kontras pada fase arteri yang maksimum (optimal) dan pada kasus hipervascular tumor.

Penggunaan media kontras dengan konsentrasi tinggi sebagai pengganti pemakaian pemberian flowrate yang tinggi (karena suatu hal tidak bisa dilakukan) dengan harapan tetap mendapatkan puncak enhancemen yang tetap optimal.


Saline Flush (Pemberian NaCl)

Penggunaan NaCl (saline) selain untuk membilas (flushing) media kontras juga untuk memanfaatkan media kontras yang masih ada di tabung injector (atau di conector) dan media kontras yang masih ada di vena peripheral (di lengan atau tangan) untuk dapat di distribusikan ke sistem pusat peredaran darah.

Penggunaan NaCl (Saline) juga dapat menambah puncak penyangatan media kontras dan efesiensi penggunaan media kontras.
Selain juga dapat mengurangi adanya artifact kontras media di daerah vena cava superior (untuk pemeriksaan pulmonum emboli).

Tips

Pemberian 20 ml s/d 30 ml NaCl ditambahkan untuk pemeriksaan CT Rutin dan 50 ml untuk pemeriksaan CT Angio.



Kesimpulan

Dalam rangka mengoptimalkan pemakaian kontras media pada pemeriksaan MSCT dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pemberian kontras media dikatakan optimal jika terdapatnya gambaran penyangatan media kontras yang optimal pada daerah yang ingin kita periksa/obyek yang ingin kita nilai.
Penentuan Scan Delay menjadi hal paling penting untuk tujuan tersebut, dan saat ini dikenal dua teknik yaitu Teknik “Test Bolus” dan teknik “Bolus Tracking”.
Dosis/volume media kontras yang diberikan tidak boleh lebih dari 3 ml/kg berat badan pasien dewasa, dan tidak boleh lebih 2 ml/kg berat badan pasien anak-anak
Untuk pemeriksaan CT Angiografi, volume media kontras dapat dirumuskan :

Volume Media kontras = (Waktu Delay Scan + Waktu Scan ) X Flowrate

atau paling tidak kita mendapatkan waktu yang sama antara durasi scan dan durasi penyuntikan media kontras (berlaku untuk alat MSCT 64 slice ke bawah, untuk Dual Source dan 128 Slicetidak berlaku). Hal ini dilakukan dengan harapan akan mendapatkan penyangatan media kontras yang maksimum/optimal.




Disarikan dari : MDCTA Practical Approach-Springer,2006; Principles of Contrast Medium Delivery and Scan Timing in MDCT oleh Kyongtae T. Bae hal.10Dan berbagai sumber lain yang mendukung ; application guide Siemens medical